Jalani Relaksasi Alam di Air Terjun Kakek Bodo

0

Mereka dua pasang suami istri. Kakek, nenek, ibu, dan ayah. Di sampingnya, bocah tujuh tahun yang bersemangat menapaki jalan menuju Air Terjun Kakek Bodo. Matahari nyaris di atas kepala, tapi suhu udara masih terasa sejuk.

Si bocah sempat mengeluh karena capek. Ayahnya langsung menggandeng tangan kecilnya. “Ayo semangat, air terjunnya sudah dekat,” kata Sang Ayah. Ibu tersenyum, nenek dan kakek tertawa.

Dari tempat mereka berdiri, tak jauh dari Taman Kakek, air terjun masih berjarak sekitar 500 meter. Jalan yang tak terlalu panjang, tapi cukup melelahkan bagi si bocah. Tapi semangat yang diberikan Sang Ayah rupanya cukup ampuh. Perjalanan pun berlanjut.

Cahaya matahari menembus daun dan cabang pohon pinus. Dedaunan lebar di sisi kanan, bergerak menyambut angin yang datang perlahan.

Melewati jalan berkelok, naik dan turun, menyeberangi jembatan warna-warni, lalu melewati Makam Kakek Bodo. Sesudahnya, pohon-pohon besar berdiri menyambut. Lengkap dengan suara gemricik air yang perlahan tapi pasti berubah lebih kencang.

“Nah, air terjun sudah dekat,” kata ibu. Si bocah tertawa kegirangan. Peluhnya yang datang bertubi dibasuh dengan ujung kaos. Senyumnya makin sumringah saat Air Terjun Kakek Bodo berdiri di depan mata.

Sang Nenek, Sumilah, 59 tahun, langsung mempercepat langkah. Masih mengenakan bajunya, ia langsung mengajak suaminya bergerak mendekati kaki air terjun. Tak jauh dari tepi, ia duduk mencoba berendam membelakangi air terjun.

“Ibu saya diberi tahu. Kalau tetesan air terjun jadi terapi pengobatan. Hampir tiap bulan kami ke sini,” kata Ilham, 33 tahun, ayah si bocah yang sekarang asyik bermain air di tepian. Debit air yang rendah karena musim kemarau membuat genangan di kaki air terjun tidak terlalu luas dan dalam.

Meski belum ada literasi ilmiah yang mampu menjelaskan hal ini, dari pantauan redaksi wisatahutan.com, beberapa orang suka melakukan hal ini. Saat duduk berendam, mereka akan merasakan titik-titik air di bagian belakang, seperti jarum lembut.

“Katanya ibu merasa tenang. Kalau saya sih percaya, ini karena udaranya yang bagus. Udara, suasana, suara alam. Kan bikin rileks,” kata Ilham. Tak jauh dari mereka, beberapa pengunjung asyik duduk santai di tepi. Bercanda, selfie, ada juga yang ikut main air.

Bagi petugas di lokasi, hal ini sebetulnya sangat tidak dianjurkan. Apalagi jika wisatawan langsung berdiri di bawah guyuran air terjun, terlebih saat musim hujan tiba. Itu sebabnya, pihak KBM Ecotourism Perhutani Jatim sebagai pengelola sedang menggodok rencana untuk memberi batas tegas antara wisatawan dengan titik paling aman.

“Kalau mau relaksasi, dengan duduk-duduk di pinggir saja sudah cukup. Menikmati udara segar, melihat pepohonan, mendengar suara air. Banyak kok yang caranya begitu,” kata si petugas. (hdl)

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.